Senyap, hanya terdengar napas memburu. Malam melangkah pelan menuju ke larut. Lelaki itu duduk meringkuk berusaha menyembunyikan tubuhnya yang makin dingin di bawah sebatang akasia tua. Lukanya masih basah, merah, dua lubang di dada dan paha kian memanas. 

Senyap kemudian terpecah, para pengejar riuh mengancam. Mereka terus berlari melewati lelaki itu.

Kotak yang ia sembunyikan di tas, hasil tadi ia pertaruhkan nyawa ditepuknya ringan. Ia berbisik pada angin, terdengar samar, “cukuplah ini untuk istriku bersalin.”

Masih tersenyum ia terpejam, antara sadar dan tidak, ia lihat istrinya: ia bersayap, terbang menjemput. (Mel)

Advertisements

Mimpi Nina

Bibir mungil Nina senyum, matanya memejam rapat. Sesekali ia membalik tubuh mencari posisi nyaman. Ia merasa hangat, kasurnya terbuat dari burger yang tebal dan lembut, selimutnya terbuat dari selapis keju lezat. Di sisi kasur burger ada segelas juice strawberry kesukaannya. 

Tidur Nina malam ini nyenyak sekali. Bahkan ia tak bangun ketika esoknya orang-orang berkerumun mengelilinginya, menatap iba. (Mel)

Fantasinya liar bagai Salman Rushdi atau Kafka atau Putu Wijaya. Tapi, 29 naskah novelnya yang ia kirimkan ke penerbit, selalu dikembalikan, dengan catatan: Segera perbaiki mesin tik Anda! 

Namun, pengarang itu tak peduli. Ia tetap saja menulis novel yang lain, yang lebih dahsyat. Siang malam. Lapar atau kenyang. Sunyi atau riuh. Dengan mesin tik tuanya, Olivetti, yang sudah bertahun-tahun kehilangan huruf a. (Mel)

Muslihat

Lelaki paruh baya itu menangis tersedu. Air matanya berderai, beberapa bulir memercik ke meja makan, ke permukaan beraneka hidangan melimpah. Sesekali ia mengucap istighfar. Isteri dan anak-anaknya yang sibuk membongkar tas belanja, berpandangan. Bingung. Para pembantu berkumpul di dapur, berbisik-bisik penasaran.

“Apa bapak mulai insyaf?”

“Mungkin.” 

“Entah.” 

Ia menarik napas panjang, berkata muram, “Sudah saatnya kita hidup sederhana. Lihat makanan ini. Lihat penampilan kalian. Tak malukah kalian di hadapan tetangga kita yang berkekurangan?” 

Perempuan dan anak-anak itu membisu. Bertanya-tanya, apakah lelaki ini sudah gila. Menunduk lesu, lelaki itu terbayang, pagi tadi KPK datang. Membongkar kantor dan rekening bank. (Mel)
#flashfiction

Gadis Angsa Hitam

 

 
Clarissa menatap Lara dari balik tirai merah tebal. Dadanya berdegub kencang, gilirannya muncul tinggal beberapa menit lagi. Segera dirapikan leotard dan rok transparan hitam yang melekat ketat di tubuhnya yang ramping. Sekilas ditatap penampilannya dari pantulan kaca di sisi kanannya. Diam-diam ia menggeram. Ia takkan pernah bisa menjadi yang terbaik selama masih ada Lara. Dengan impulsif diusap rambutnya legam yang membentuk konde ketat di kepalanya.

Tatapannya beralih ke arah Bisma yang malam itu memesona dengan setelan tuxedo. Musik orkestra yang dipimpinnya mengalun indah mengiringi pertunjukan balet The Swan Lake.

One… Two… Three…
One… Two… Three…

Clarissa melangkahkan kaki dengan lincah dan kuat. Ekspresinya mengeras dan kejam. Musik yang tadinya mengalun lembut berubah menukik tajam, persis penggambaran karakter si Gadis Angsa Hitam.

Tubuh Clarissa makin ringan seperti kapas.  Kakinya membentuk en pointe, melakukan pirouette, lalu diikuti putaran  fouettés yang sempurna. Itu gerakan penentu keberhasilan penampilannya. Karakter Odile telah mengalir deras dalam darahnya, ia seperti sedang menampilkan karakter dirinya sendiri.

Bibir gadis itu menipis hingga membentuk sebuah garis.
Puas.

“My Girls!” Bisma mengambangkan kedua lengan yang kemudian disambut pekikan Lara yang langsung menghambur ke pelukannya lalu mengecup bibirnya sekilas. Bisma menarik Clarissa dalam rangkulannya lalu mengecup pipinya.

“Kalian hebat! I’m so proud of you.”
“Kamu juga keren.” ucap Lara mesra.
“Kita rayakan malam ini?”

Clarissa melepaskan diri dari rangkulan Bisma. Ia menggeleng.

“Nope, aku harus segera pulang. Aku lelah.”
“Ayolah, Ca!” Bisma berkeras.
“Aku harus latihan lebih awal. Tahu sendiri kan Miss Julia gimana.”
“Ya sudah, jangan paksa lagi.” Lara menggamit lengan Clarissa. Berbisik, “hei, Ca, Odile-mu cantik sekali.”

Clarissa tak menjawab. Ia tersenyum tipis sambil melambaikan tangan lalu berbalik arah tak menoleh sama sekali. Ia berjalan melewati taman kota yang merupakan jalan pintas yang langsung mengarahkannya ke apartemennya. Seperti yang sudah diperkirakan, taman kota sepi. Seram. Hanya nampak bayang hitam pepohonan dan kursi-kursi kosong yang diterangi lampu-lampu merkuri.

Ia mengesah. Waktu tak pernah ia rasakan selambat ini.  Tak nampak apapun di sekitarnya yang bergerak.

Senyap.
Diam.

Ketika dirasakan rongga dadanya makin sesak, ia berhenti berjalan lalu duduk di langkan kolam air mancur yang berada di tengah taman. Perjalanan menuju apartemen tinggal lima menit lagi. Ia bisa duduk sejenak, berdiam di sana, meredam kepedihan hatinya. Matanya menatap dasar kolam yang dipenuhi koin-koin mengilat. Tiba-tiba ia meruntuk.

Stupid!

Bodoh orang-orang yang membuang receh demi sebuah keinginan absurd. Ia tak pernah percaya keajaiban. Itu cuma semacam cerita konyol untuk menipu anak-anak manja yang menolak kenyataan. Segala keinginan mesti diperjuangkan sampai titik pernghabisan. Tapi jika di penghujung harus berhadapan dengan orang-orang beruntung seperti Lara…

Ia kembali menghela napas.

Ingatan membawanya pada tahun lalu saat Bisma menyatakan cinta pada Lara. Dunianya hancur seketika. Bisma adalah pusat semesta bagi Clarissa. Sahabat kecil yang bertumbuh bersama, di mana mereka akan selalu saling mencari untuk bertukar cerita dan berbagi mimpi. Saling memberikan semangat saat yang lainnya jatuh…

Kehadiran Lara merusak semua kebahagiaan kecilnya.

Ia meremas ujung scraf sutra yang melilit di lehernya. Apa salahnya iseng mencoba? Toh ia sudah sebodoh ini mencintai Bisma sampai setengah mati.Tangannya menyusup ke dalam tas, mengambil beberapa keping koin, lalu melemparkannya ke dasar kolam.

Kuharap Lara menghilang dari kehidupanku

 ***

Lara ditemukan mati di kamarnya!

Kematian Lara mengundang banyak kecurigaan bahwa ia dibunuh. Namun kecurigaan itu luruh karena tak ada alat atau apapun yang ditemukan di kamar gadis itu.  Hasil autopsi pun tak ada tanda kekerasan. Semua rapi dan bersih.

Berhari dan berkali polisi memanggil Clarissa dan Bisma bergantian untuk dimintai keterangan. Clarissa dan Bisma adalah orang terakhir terlihat bersama Lara malam itu usai pertunjukan balet. Namun akhirnya mereka dilepas begitu saja karena terbukti Lara sudah kembali ke rumah dengan selamat. Suami istri Handogo -orangtua Lara- sendiri yang membukakan pintu dan melihat Lara kembali ke kamarnya.

Polisi angkat tangan. Sebulan kemudian Lara dinyatakan bunuh diri meski tak diketahui motif dan penyebab kematiannya.

Clarissa berjalan gontai keluar dari kantor polisi. Ia lelah luar biasa. Tak hentinya ia berpikir. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi dan tak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa kematian Lara karena permohonannya beberapa minggu lalu di kolam air mancur itu.

Itu konyol!

Tak urung Clarissa berduka. Bersahabat dengan Lara selama dua tiga tahun ini sedikit banyak memberikan warna dalam kehidupannya. Lara cantik. Persis boneka porselen yang halus sekali buatannya yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Kulitnya bening, postur tubuhnya yang langsing, sepasang matanya seperti buah badam, dan tingkah lakunya yang serba halus dan santun… begitu berbeda dengan dirinya. Mereka gambaran solid karakter Odette dan Odile.

Bibir Clarissa menipis.

Bagaimanpun keinginannya telah terkabul. Suara tepuk tangan dan pujian yang telah diterimanya seusai pementasan balet telah memenuhi dahaganya oleh sebuah pengakuan bahwa ia seorang bintang. Rasa itulah yang mengalahkan dukanya. Ia tak puas apa lagi?

Sesaat kemudian raut wajahnya berubah lebih tenang. Selama ada Lara, ia akan selalu menjadi nomer dua. Ia tak sudi.

***

Sebagai Gadis Danau Angsa yang baru, Clarissa mendapat sambutan luar biasa. Pada pertunjukan terakhir malam ini, ia telah buktikan pada para pemuja Lara bahwa ia tak bisa dipandang sebelah mata. Tepuk tangan membahana menggema di Crystal Palace. Semua berdiri memberikan standing ovation. Clarissa menyukai golak hangat yang ngalir di tubuhnya. Anggun, ia membungkuk, memberikan salam perpisahan sebelum tirai ditutup.

“You did a great job, Ica!” Bisma memeluknya tanpa Lara. Lelaki ini kini hanya untuk dirinya sendiri. Dunia Clarissa yang berkeping kini mulai kembali utuh. Kebahagiaan menjalar hangat dalam dirinya.
“Kamu suka?”
“Aku tak pernah tak suka, kan?”

Bisma memeluknya kian erat. Napasnya memberat, menatap gadis itu rekat. Clarissa mendekatkan wajahnya ke arah Bisma, menciumnya dengan bibirnya yang bergetar.

Seperti ini rasanya.

Clarissa membiarkan Bisma menciumnya, tak memedulikan tatapan orang-orang yang melewatinya. Ia tahu lelaki ini kesepian setelah kehilangan Lara dan ia tak peduli apapun meski menyerahkan jiwa raganya untuk bisa bersamanya.

“Aku tak mau pulang.” bisik Clarissa.
“Kamu tidak harus pulang.”

Bisma menggandeng tangan Clarissa erat. Berjalan bersisian tanpa suara. Jalan raya tak pernah lengang, lampu-lampu mobil sesekali menyorot tajam menyilaukan keduanya. Tiba di persimpangan taman kota, Clarissa berhenti, menoleh ke kanan, menunjuk ke arah kolam air mancur.

“Ada apa?”
“Konon sebuah permohonan akan terkabul jika kita melemparkan koin ke dalamnya.”
“Kamu percaya yang begituan?”
“Semula tidak. Tapi satu permohonanku terkabul.” Gadis itu menggamit Bisma lalu menariknya sambil merajuk, “ayo!”

Bisma menyerah, dibiarkan gadis itu berlari membawanya ke kolam air mancur dan ia mengikutinya dari belakang sambil tertawa. Ia duduk di samping Clarissa sambil memain-mainkan air kolam yang bening. Ia mendongak menatap detail ornamen air mancur bergaya Itali bercat keemasan. Matanya menatap patung sepasang angsa di ujung sana.

Ia mengesah.

“Mungkin cerita itu benar. Aku akan membuat satu permohonan.”
“Kamu?” Clarissa terbahak.
“Kenapa tidak?”
“Permohonan apa?”
“Ra-ha-si-a!”

Bibir Clarissa manyun. Ia suka melihat Bisma telah kembali menjadi dirinya sendiri seperti dulu. Hangat dan akrab. Sejak ia bersama Lara, dirasakannya lelaki ini menjauh. Terasa asing. Clarissa kehilangannya.

Bisma mengambil sebuah koin dari saku jas, melemparkannya ke kolam, lalu mengucapkan satu permohonan.

***

Musim panas berkepanjangan. Jalan-jalan dan trotoar dipenuhi daun kering yang pohonnya meranggas. Orang-orang malas bepergian jika tak ada kepentingan. Mereka lebih suka berdiam di rumah, atau berkumpul di pusat-pusat pertokoan yang adem, atau taman kota untuk mendinginkan tubuh.

Tak memedulikan teriknya siang, Clarissa mendorong kursi rodanya ke arah taman kota. Scraf sutranya menggantung begitu saja di bahunya. Matanya yang dulu tajam dan cerlang tak lagi nampak. Tubuhnya makin kurus sejak kecelakaan dua tahun lalu. Beberapa tulang di tubuhnya termasuk tulang punggungnya patah. Ia tak bisa lagi menari.

Di depan kolam air mancur ia berhenti. Menatap lekat patung-patung ornamen air mancur. Air kolam berkilauan memantul keemasan. Ia melempar koin ke dalamnya dan mengucap satu permohonan baru, “kumohon… kumohon aku bisa kembali bersama kalian. Aku kesepian.” (Mel)