Telepon

Suara telepon di telingaku kerap berdering akhir-akhir ini. Aku memutuskan mengabaikannya. Aku tak ingin tahu siapa di ujung sana atau apa yang hendak ia katakan.

Biiiip biiip bip

Biiiip biiip bip

Begitu terus hingga membentuk satu rangkai suara yang membuat gatal di ujung-ujung jemariku.

Aku menyerah.

Kuangkat telepon itu. Tak ada suara di sana. Telingaku hening. Kepalaku ringan. Gatal-gatal di ujung jari hilang.

Tapi kemudian aku tak lagi memiliki pikiran. (Mel)

Advertisements

Bunga

Suara decit ban itu sangat khas. Aku gegas berlari menuju jendela, dan berusaha menengok ke bawah dari balik kaca.

Mataku mengerjap. Dadaku bergeletar. Hangat.

Pemuda itu turun dari van. Tubuhnya jangkung dengan rambut ikal melingkar-lingkar, dan gerak tubuhnya luwes. Oh, rinduku padanya langsung membuncah ruah.

Ia menengadah, melambaikan tangan ke arahku. Malu-malu dan kikuk kubalas lambaiannya.

Ia tak pernah berbicara padaku. Kami hanya saling menatap sesaat dan melambaikan tangan. Meskipun hanya begitu saja tiap kali, itu membuatku cukup bahagia dan menimbulkan sebuah pengharapan untuk satu minggu lagi tiba pada pertemuan aneh kami.

Beberapa saat, van pengantar barang menjauh, aku menuruni anak tangga untuk mengambil buket bunga kiriman dari mama dan papa untukku.

Kartu kecil melekat pada bunga-bunga itu kali ini berwarna merah muda. Aku memungutnya dan mulai membaca:

“Beristirahatlah dengan tenang, Nak. Kami merindukanmu.” (Mel)

Bola

Anak-anak berdiri bergerombol, menatap pucat ke arah rumah di paling ujung gang itu. Bola yang ditendang barusan terlempar jauh, melewati pagar, memecah sebuah jendela.

“Anak-anak nakal!” Suara itu nyaring.

Pintu depan terbuka perlahan. Anak-anak itu bergeming. Kaki mereka terpaku di tanah. Mereka semua terkesiap. Lelaki tua itu muncul dan berdiri di sana dengan sikap mengancam. “Anak nakal!” serunya berulang-ulang.

Setelah satu menit salah satu anak memberanikan diri melangkah maju.
“Maaf, Pak. Bolaku menghancurkan kaca jendela rumah Bapak.”

Lelaki itu tak bergerak, tak berkata apapun. Keheningan merayap di udara. Menimbulkan rasa dingin yang aneh.

“Ayo, kita pergi saja.” Salah satu dari mereka berbisik sambil menarik lengan salah satu yang lain. Mereka berbalik dan menuju ke arah jalan.

“Berhenti!” menggelegar suaranya.
Langit kini berubah gelap, suhu udara turun. Anak-anak kembali lumpuh. Tubuhnya bergeletar ketika menatap lelaki tua itu. Mata lelaki itu bersinar merah. Mereka mulai menangis.

Dua menit berlalu dan kemudian segalanya kembali normal: suhu meningkat, langit kembali cerah, mata orang itu berhenti bersinar dan anak-anak tidak lagi lumpuh.

“Tetap di situ. Kuambilkan bolamu.” Suara lelaki tua itu melembut. Ia meninggalkan anak-anak itu dan masuk ke dalam rumah hendak mengambil bola.

Anak-anak tak mau berada di sana lebih lama. Mereka menjerit-jerit, melarikan diri sebelum lelaki itu keluar untuk menyerahkan bola itu kembali. Mereka tidak pernah bermain di ujung gang lagi. (Mel)

Bromocorah


Malam melangkah pelan menuju ke larut. Senyap. Hanya terdengar napasnya memburu. Lelaki itu duduk meringkuk berusaha menyembunyikan tubuhnya yang mulai beku di bawah sebatang akasia tua. Lukanya masih basah, merah, dua lubang di dada dan paha kian memanas. 

Senyap kemudian terpecah, para pengejar riuh mengancam. Mereka terus berlari melewati lelaki itu.

Kotak yang ia sembunyikan di tas, hasil tadi ia pertaruhkan nyawa ditepuknya ringan. Ia berbisik pada angin, terdengar samar, “cukup ini untuk istriku bersalin.”

Masih tersenyum, ia terpejam. Antara sadar dan tidak, ia melihat istrinya di kejauhan: ia bersayap, terbang menjemput. (Mel)

Mimpi Nina

Bibir mungil Nina senyum, matanya memejam rapat. Sesekali ia membalik tubuh mencari posisi nyaman. Ia merasa hangat, kasurnya terbuat dari roti burger yang tebal dan lembut, selimutnya terbuat dari selapis keju lezat. Di sisi kasur burger ada segelas juice strawberry kesukaannya. 

Tidur Nina malam ini nyenyak sekali. Bahkan ia tak bangun ketika esoknya orang-orang berkerumun mengelilinginya, menatap iba. (Mel)