Dia membaca surat itu. Napasnya tersengal. Paru-parunya mengambang  mengempis, mencari udara untuk memadamkan gejolak melalui pembuluh darahnya. 

Perasaan yang seperti ini mestinya cinta. Tapi kenapa membeku? Tubuhnya menggigil, sekujur tubuh seperti dibungkus oleh sesuatu yang dinginnya abadi. 

Perasaan ini jelas ditimbulkan oleh Kematian. Ia telah mengikutinya selama dua puluh tahun. 

Kematian datang pertama kali mengunjungi ayahnya dengan begitu tiba-tiba. Ayahnya terbaring di pinggiran hutan yang jauh dari lalu lalang kendaraan. Tak seorang pun tahu mengapa ia ada di sana. Ayahnya kaku, membisu, memejam seperti lilin yang kehabisan oksigen. Padam begitu saja.

Dia ketika itu masih tujuh tahun, dia tidak mengerti apapun.

Kedatangannya yang kedua tak begitu mengagetkan. Kolera menjadi wabah, kedua adik perempuannya berjalan digandeng pergi.

Dia mulai memahami sesuatu ketika lima tahun kemudian, kematian kembali datang. Kali ini mengambil ibunya. Kini, segala sesuatu yang pernah dicintainya pergi.

Usia keempat belas, ia dikenal sebagai gelandangan dan yatim piatu. Anak pemilik kesedihan, ketakutan, dan kets kotor yang selalu dikenakannya. 

Sekarang dia hampir sembilan belas. Kematian masih mengikuti dan mencari celah untuk mengambil apapun yang ia punya. Namun dia tidak pernah berhenti, tidak pernah untuk menaruh dirinya dalam situasi yang bisa menghancurkan seperti masa kecilnya. Satu-satunya cara untuk mengelabui Kematian adalah dengan terus bergerak ke depan tanpa menoleh. Ia takkan memberikan kesempatan sekecilpun.

Keadaan ini berjalan selama enam tahun. Hidup tanpa tanggung jawab atau keluarga untuk dipertahankan kecuali keselamatan dirinya sendiri. Perjalanan terlalu berbahaya, perusahaan tidak terlalu curiga. Pengalaman banjir dalam hidupnya. Dia melihat kematian di wajah perang dan damai, berkokok ‘Anda tidak bisa menangkap saya’ dan pindah, menonton, menulis, hidup. Merawat tanpa lampiran memberinya sudut sempurna untuk merenungkan apa saja dan segala sesuatu di depannya. 

Nya tales petualangan besar dan kecil menemukan penonton yang tajam. Keberanian dan lidah cepat lahir-dari-kebutuhan-Nya membawanya ke sirkuit pembicara motivasi yang menguntungkan. Harun tidak pernah berinvestasi dalam apa pun yang ia bisa melanjutkan pribadinya, sehingga ia hidup dalam kehidupan yang baik di mana saja dia bisa. 

Sampai ia bertemu Megan. 

Dia di sebuah konferensi, sial dan steril, tenggelam di cling dan cloy murah aftershave dan jabat tangan lemas. Dia adalah seorang pembicara; Dia ada di sana untuk diajak bicara. Ketika dia mengambil panggung, wajahnya menyala, berdiri keluar. Dia merasa hidup yang memancarkan dari dia, bergelombang dan cerah. Untuk saat-saat dia adalah tertentu kematian harus mencari di tempat lain. 

Ia memegang pandangan matanya ketika ia berbicara, merasa tenang dan penasaran stabilitas di wajahnya penuh harapan. Dia terpesona dan membatu dia secara bersamaan. 

Hanya malam ini, katanya kepada dirinya sendiri, hanya malam ini. 

Mereka berbicara di bar, di hotel, dan di Taman saat matahari terbit. Sore itu, dia mengatakan selamat tinggal. Tapi dia tahu itu adalah dusta, karena hal itu menyakiti untuk meninggalkannya, dan tidak ada yang baru telah menyakiti hatinya dalam sembilan tahun. 

Kematian diaduk di bahunya, menggelitik telinganya, mengingatkannya itu sedang menonton, menunggu, siap untuk meracuni siapa pun ia membuka hatinya kepada. 

Harun menjawab dengan beralih benua untuk lima malam. Jangan berhenti berjalan. 

Seminggu kemudian dia adalah kembali, lain pidato untuk memberikan. Ketika ia memeriksa ke hotel, receptionist menyerahkan surat. 

Dari Megan. 

Penuh kata-kata menggembirakan kecil dan kasual, tekanan-kurang pikiran. ‘Menulis kembali jika Anda seperti’, katanya. Dia menyukai. Dia menulis kembali. 

Dia yakin dirinya kematian tidak peduli untuk huruf. Megan tidak nyata; Dia tidak ada bersamanya. Ketat kertas. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan dalam satu dan hanya koper. Kematian tidak akan menyentuh ini. 

Mana pun ia pergi, dia akrab little surat, amplop-amplop kuning yang dibahas dalam pena hijau, menunggu dia di meja depan. Saat ia selesai dengan bisnis atau bertamasya, ia akan menghabiskan semua malam menjawab. 

Jika kita tetap cukup jauh terpisah, kita dapat bersama-sama selamanya. 

Enam bulan, ia berada dalam kamar terbaik dari sebuah hotel mewah, menghadap ke kota yang dia selalu ingin mengunjungi. Tetapi ia tidak akan hari ini. Dia membaca surat ini berulang-ulang. Surat ini tidak seperti yang lain. 

Itu bukan kucing dan kuliner bencana dan a-lucu-hal-terjadi. Tidak, ini salah satu mengatakan hal-hal yang nyata, mengatakan tidak bisa pretendthings, mengatakan kita punya sesuatu hal-hal di sini yang khusus. Hal-hal yang membuat kematian menggosok tangan dengan gembira, mengguncang Harun mendalam dengan cinta, dan marah dengan rasa takut. 

Dia terlalu indah, terlalu sempurna dan terlalu berharga untuk risiko. Dia tidak bisa tanpa kata-katanya, tanpa dia. 

Jadi dia tidak bisa dengannya. 

Dia menulis kembali. Dia menjelaskan semuanya. Ia mengatakan tentang ayahnya, ibunya. Tentang kematian di bahunya. 

Ia mengatakan dia adalah diberikan padanya segala yang ia bisa, yang sekarang dia bergerak di, dan bahwa ia akan memberitahu hotel bukan untuk mengambil e-mail baginya. 

Dan ia mengatakan dia mengasihinya, dan ia menyesal. 

Tapi dia harus tetap berjalan: ia tidak pernah tinggal masih harus dengannya. 

Ia posting jawabannya. Ia berubah Hotel. Ia tetap sibuk. Memberitahu kematian ia tidak akan membiarkan itu menang. 

Empat hari kemudian, ia terbangun dari makan di tempat tidur dengan tentatif ketukan di pintu. 

Ini adalah Megan. 

Dia kewalahan, beku. Memori mata lebar dan terbuka senyum adalah monokrom dan fuzzy, dibandingkan dengan realitas. 

Batas-batas hati Nya sebagai kegelapan dingin mencoba untuk banjir itu. Kemudian dia tetes nya tas dan Menyelam, membungkus lengannya di sekelilingnya; tertawa, meremas, dia datang semua cara ini dan dia pelukan kembali dan hatinya beats sehingga kematian emas dan hangat tidak berdiri kesempatan. 

Anda tidak dapat menjaga… Kematian berbisik, gugup. Menjalankan, sebelum sakit. 

Dia tidak ingin menjalankan. Dia tampak di sudut-sudut gelap untuk kematian, dan tidak melihat. 

“Kau tahu,” katanya, menggambar dengan tatapan kembali kepadanya, suara hati-hati, lembut, sadar, “Aku mengerti. Aku tidak perlu… hal-hal. Aku akan menjual rumah saya, keluar dari pekerjaan saya, and…come dengan Anda. Jika Anda suka.”
Dia tersenyum. Dan mengatakan ya. Karena kematian tidak dapat menangkap salah satu dari mereka jika mereka berjalan bersama-sama.

Muslihat

Lelaki paruh baya itu menangis tersedu. Air matanya berderai, beberapa bulir memercik ke meja makan, ke permukaan beraneka hidangan melimpah. Sesekali ia mengucap istighfar. Isteri dan anak-anaknya yang sibuk membongkar tas belanja, berpandangan. Bingung. Para pembantu berkumpul di dapur, berbisik-bisik penasaran.

“Apa bapak mulai insyaf?”

“Mungkin.” 

“Entah.” 

Ia menarik napas panjang, berkata muram, “Sudah saatnya kita hidup sederhana. Lihat makanan ini. Lihat penampilan kalian. Tak malukah kalian di hadapan tetangga kita yang berkekurangan?” 

Perempuan dan anak-anak itu membisu. Bertanya-tanya, apakah lelaki ini sudah gila. Menunduk lesu, lelaki itu terbayang, pagi tadi KPK datang. Membongkar kantor dan rekening bank. (Mel)
#flashfiction

Gadis Angsa Hitam

 

 
Clarissa menatap Lara dari balik tirai merah tebal. Dadanya berdegub kencang, gilirannya muncul tinggal beberapa menit lagi. Segera dirapikan leotard dan rok transparan hitam yang melekat ketat di tubuhnya yang ramping. Sekilas ditatap penampilannya dari pantulan kaca di sisi kanannya. Diam-diam ia menggeram. Ia takkan pernah bisa menjadi yang terbaik selama masih ada Lara. Dengan impulsif diusap rambutnya legam yang membentuk konde ketat di kepalanya.

Tatapannya beralih ke arah Bisma yang malam itu memesona dengan setelan tuxedo. Musik orkestra yang dipimpinnya mengalun indah mengiringi pertunjukan balet The Swan Lake.

One… Two… Three…
One… Two… Three…

Clarissa melangkahkan kaki dengan lincah dan kuat. Ekspresinya mengeras dan kejam. Musik yang tadinya mengalun lembut berubah menukik tajam, persis penggambaran karakter si Gadis Angsa Hitam.

Tubuh Clarissa makin ringan seperti kapas.  Kakinya membentuk en pointe, melakukan pirouette, lalu diikuti putaran  fouettés yang sempurna. Itu gerakan penentu keberhasilan penampilannya. Karakter Odile telah mengalir deras dalam darahnya, ia seperti sedang menampilkan karakter dirinya sendiri.

Bibir gadis itu menipis hingga membentuk sebuah garis.
Puas.

“My Girls!” Bisma mengambangkan kedua lengan yang kemudian disambut pekikan Lara yang langsung menghambur ke pelukannya lalu mengecup bibirnya sekilas. Bisma menarik Clarissa dalam rangkulannya lalu mengecup pipinya.

“Kalian hebat! I’m so proud of you.”
“Kamu juga keren.” ucap Lara mesra.
“Kita rayakan malam ini?”

Clarissa melepaskan diri dari rangkulan Bisma. Ia menggeleng.

“Nope, aku harus segera pulang. Aku lelah.”
“Ayolah, Ca!” Bisma berkeras.
“Aku harus latihan lebih awal. Tahu sendiri kan Miss Julia gimana.”
“Ya sudah, jangan paksa lagi.” Lara menggamit lengan Clarissa. Berbisik, “hei, Ca, Odile-mu cantik sekali.”

Clarissa tak menjawab. Ia tersenyum tipis sambil melambaikan tangan lalu berbalik arah tak menoleh sama sekali. Ia berjalan melewati taman kota yang merupakan jalan pintas yang langsung mengarahkannya ke apartemennya. Seperti yang sudah diperkirakan, taman kota sepi. Seram. Hanya nampak bayang hitam pepohonan dan kursi-kursi kosong yang diterangi lampu-lampu merkuri.

Ia mengesah. Waktu tak pernah ia rasakan selambat ini.  Tak nampak apapun di sekitarnya yang bergerak.

Senyap.
Diam.

Ketika dirasakan rongga dadanya makin sesak, ia berhenti berjalan lalu duduk di langkan kolam air mancur yang berada di tengah taman. Perjalanan menuju apartemen tinggal lima menit lagi. Ia bisa duduk sejenak, berdiam di sana, meredam kepedihan hatinya. Matanya menatap dasar kolam yang dipenuhi koin-koin mengilat. Tiba-tiba ia meruntuk.

Stupid!

Bodoh orang-orang yang membuang receh demi sebuah keinginan absurd. Ia tak pernah percaya keajaiban. Itu cuma semacam cerita konyol untuk menipu anak-anak manja yang menolak kenyataan. Segala keinginan mesti diperjuangkan sampai titik pernghabisan. Tapi jika di penghujung harus berhadapan dengan orang-orang beruntung seperti Lara…

Ia kembali menghela napas.

Ingatan membawanya pada tahun lalu saat Bisma menyatakan cinta pada Lara. Dunianya hancur seketika. Bisma adalah pusat semesta bagi Clarissa. Sahabat kecil yang bertumbuh bersama, di mana mereka akan selalu saling mencari untuk bertukar cerita dan berbagi mimpi. Saling memberikan semangat saat yang lainnya jatuh…

Kehadiran Lara merusak semua kebahagiaan kecilnya.

Ia meremas ujung scraf sutra yang melilit di lehernya. Apa salahnya iseng mencoba? Toh ia sudah sebodoh ini mencintai Bisma sampai setengah mati.Tangannya menyusup ke dalam tas, mengambil beberapa keping koin, lalu melemparkannya ke dasar kolam.

Kuharap Lara menghilang dari kehidupanku

 ***

Lara ditemukan mati di kamarnya!

Kematian Lara mengundang banyak kecurigaan bahwa ia dibunuh. Namun kecurigaan itu luruh karena tak ada alat atau apapun yang ditemukan di kamar gadis itu.  Hasil autopsi pun tak ada tanda kekerasan. Semua rapi dan bersih.

Berhari dan berkali polisi memanggil Clarissa dan Bisma bergantian untuk dimintai keterangan. Clarissa dan Bisma adalah orang terakhir terlihat bersama Lara malam itu usai pertunjukan balet. Namun akhirnya mereka dilepas begitu saja karena terbukti Lara sudah kembali ke rumah dengan selamat. Suami istri Handogo -orangtua Lara- sendiri yang membukakan pintu dan melihat Lara kembali ke kamarnya.

Polisi angkat tangan. Sebulan kemudian Lara dinyatakan bunuh diri meski tak diketahui motif dan penyebab kematiannya.

Clarissa berjalan gontai keluar dari kantor polisi. Ia lelah luar biasa. Tak hentinya ia berpikir. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi dan tak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa kematian Lara karena permohonannya beberapa minggu lalu di kolam air mancur itu.

Itu konyol!

Tak urung Clarissa berduka. Bersahabat dengan Lara selama dua tiga tahun ini sedikit banyak memberikan warna dalam kehidupannya. Lara cantik. Persis boneka porselen yang halus sekali buatannya yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Kulitnya bening, postur tubuhnya yang langsing, sepasang matanya seperti buah badam, dan tingkah lakunya yang serba halus dan santun… begitu berbeda dengan dirinya. Mereka gambaran solid karakter Odette dan Odile.

Bibir Clarissa menipis.

Bagaimanpun keinginannya telah terkabul. Suara tepuk tangan dan pujian yang telah diterimanya seusai pementasan balet telah memenuhi dahaganya oleh sebuah pengakuan bahwa ia seorang bintang. Rasa itulah yang mengalahkan dukanya. Ia tak puas apa lagi?

Sesaat kemudian raut wajahnya berubah lebih tenang. Selama ada Lara, ia akan selalu menjadi nomer dua. Ia tak sudi.

***

Sebagai Gadis Danau Angsa yang baru, Clarissa mendapat sambutan luar biasa. Pada pertunjukan terakhir malam ini, ia telah buktikan pada para pemuja Lara bahwa ia tak bisa dipandang sebelah mata. Tepuk tangan membahana menggema di Crystal Palace. Semua berdiri memberikan standing ovation. Clarissa menyukai golak hangat yang ngalir di tubuhnya. Anggun, ia membungkuk, memberikan salam perpisahan sebelum tirai ditutup.

“You did a great job, Ica!” Bisma memeluknya tanpa Lara. Lelaki ini kini hanya untuk dirinya sendiri. Dunia Clarissa yang berkeping kini mulai kembali utuh. Kebahagiaan menjalar hangat dalam dirinya.
“Kamu suka?”
“Aku tak pernah tak suka, kan?”

Bisma memeluknya kian erat. Napasnya memberat, menatap gadis itu rekat. Clarissa mendekatkan wajahnya ke arah Bisma, menciumnya dengan bibirnya yang bergetar.

Seperti ini rasanya.

Clarissa membiarkan Bisma menciumnya, tak memedulikan tatapan orang-orang yang melewatinya. Ia tahu lelaki ini kesepian setelah kehilangan Lara dan ia tak peduli apapun meski menyerahkan jiwa raganya untuk bisa bersamanya.

“Aku tak mau pulang.” bisik Clarissa.
“Kamu tidak harus pulang.”

Bisma menggandeng tangan Clarissa erat. Berjalan bersisian tanpa suara. Jalan raya tak pernah lengang, lampu-lampu mobil sesekali menyorot tajam menyilaukan keduanya. Tiba di persimpangan taman kota, Clarissa berhenti, menoleh ke kanan, menunjuk ke arah kolam air mancur.

“Ada apa?”
“Konon sebuah permohonan akan terkabul jika kita melemparkan koin ke dalamnya.”
“Kamu percaya yang begituan?”
“Semula tidak. Tapi satu permohonanku terkabul.” Gadis itu menggamit Bisma lalu menariknya sambil merajuk, “ayo!”

Bisma menyerah, dibiarkan gadis itu berlari membawanya ke kolam air mancur dan ia mengikutinya dari belakang sambil tertawa. Ia duduk di samping Clarissa sambil memain-mainkan air kolam yang bening. Ia mendongak menatap detail ornamen air mancur bergaya Itali bercat keemasan. Matanya menatap patung sepasang angsa di ujung sana.

Ia mengesah.

“Mungkin cerita itu benar. Aku akan membuat satu permohonan.”
“Kamu?” Clarissa terbahak.
“Kenapa tidak?”
“Permohonan apa?”
“Ra-ha-si-a!”

Bibir Clarissa manyun. Ia suka melihat Bisma telah kembali menjadi dirinya sendiri seperti dulu. Hangat dan akrab. Sejak ia bersama Lara, dirasakannya lelaki ini menjauh. Terasa asing. Clarissa kehilangannya.

Bisma mengambil sebuah koin dari saku jas, melemparkannya ke kolam, lalu mengucapkan satu permohonan.

***

Musim panas berkepanjangan. Jalan-jalan dan trotoar dipenuhi daun kering yang pohonnya meranggas. Orang-orang malas bepergian jika tak ada kepentingan. Mereka lebih suka berdiam di rumah, atau berkumpul di pusat-pusat pertokoan yang adem, atau taman kota untuk mendinginkan tubuh.

Tak memedulikan teriknya siang, Clarissa mendorong kursi rodanya ke arah taman kota. Scraf sutranya menggantung begitu saja di bahunya. Matanya yang dulu tajam dan cerlang tak lagi nampak. Tubuhnya makin kurus sejak kecelakaan dua tahun lalu. Beberapa tulang di tubuhnya termasuk tulang punggungnya patah. Ia tak bisa lagi menari.

Di depan kolam air mancur ia berhenti. Menatap lekat patung-patung ornamen air mancur. Air kolam berkilauan memantul keemasan. Ia melempar koin ke dalamnya dan mengucap satu permohonan baru, “kumohon… kumohon aku bisa kembali bersama kalian. Aku kesepian.” (Mel) 

 

Sepatu Merah Jambu

 

Segara berlari, menyelinap lincah, menembus macet lalu lintas, tak memedulikan keringat membanjir dari ketiak dan leher, membasahi kaosnya. Tas kresek berisi sepatu merah jambu bekas yang diberikan babah Liong didekap ke dadanya.

Tak sabar ia untuk menemui Camar. Dibayangkan reaksinya saat nanti menerima kejutan darinya. Selama ini ia pura-pura tak melihat raut kepingin Camar saat melihat anak-anak sebayanya mengenakan sepatu warna-warni ketika hendak ke sekolah. Camar memang diam, ia hanya tak ingin menyusahkannya.

Persis dugaannya, Camar memekik girang saat menerimanya. Segara segera berlutut, membantu gadis kecil itu mengenakannya.

“Merah jambu itu warna sayang.” celoteh Camar.
“Dari mana Adek tahu?”
“Ibu yang bilang.”

Segara tercekat.

Suaranya parau, “Adek cantik. Seperti putri.”
“Seperti ibu!” tegas Camar sambil menatap kaki kanannya yang digoyang-goyangkannya lincah.
“Ya, seperti ibu.”

Mata Camar berbinar seketika. Ditelengkan kepala, menatap foto orangtua mereka yang tiada. Diam-diam, tangan Segara di belakang punggung meremas pasangan sepatu sebelah kiri makin erat. (Mel)

#149

 

Potret Keluarga

 

Lengan Ijah melingkar erat di pinggang Raji. Keringat dleweran di kening saking teriknya matahari pagi itu, namun senyumnya tak pernah hilang dari raut wajahnya. Sesekali tangannya terulur ke depan, membenarkan topi merah Siti yang duduk di kursi kecil yang sengaja dipasang Raji di depan sadel. Balita itu tak henti berteriak girang, tangannya yang kurus berkali menunjuk-nunjuk tiap pemandangan yang menarik perhatiannya.

Raji mengayuh sepedanya dengan semangat. Keringat tak cuma menetes kini, kaos oblongnya basah. Sesekali ia membasahi bibirnya yang kering.

Kowe haus tidak, Jah?” katanya tanpa menolehkan kepala.

“Sedikit. Tapi tak usahlah jajan. Nanti kita kesiangan.”

Raji hanya mendehem, menyetujuinya. Ia terus mengayuh. Perjalanan ke kota tak begitu jauh. Seperempat jam lagi mestinya mereka sampai tujuan.

Mereka tak lagi berbicara, hanya suara-suara cadel Siti yang penasaran, dan sesekali Raji menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Sesuai perhitungan Raji, studio foto “Lestari” baru saja dibuka. Cik Ling, pemiliknya, duduk di meja kasir sambil memilah-milah foto-foto yang sudah dicetak.

“Cik,” sapa Raji sambil menggandeng Ijah. Tangan kanannya menggendong Siti yang sibuk memandangi sekelilingnya yang asing.

Cik Ling mengangkat kepala lalu senyum, “Aiyaaaa, kalian tepat waktu. Ayo! Ayo!” Perempuan berumur setengah abad itu menjulurkan tangan, mempersilakan Raji dan Ijah masuk ke ruang tengah. “Ayo! Ayo! Ini, bersihkan dulu itu muka kalian!” serunya lagi sambil menyerahkan sekotak tisu basah yang wangi baunya.

Raji mengambil beberapa. Agak malu karena keadaannya. Ijah mengikuti suaminya, pertama membersihkan wajah Siti, lalu membersihkan wajahnya sendiri. Seketika wajah-wajah lelah mereka tak lagi nampak.

“Setengah badan saja, Cik.” pinta Raji sambil menunduk. Suaranya lirih. Masih menyimpan malu.

Cik Ling tersenyum. “Hao le! Baiklah! Aku tahulah. Sudah, kalian duduk sana!”

Raji duduk di sofa panjang yang sengaja diletakkan di tengah ruangan, Siti duduk di sampingnya sambil memangku Isti, sementara Cik Ling memasang lampu-lampu.

“Siap ya?!” Cik Ling memberikan aba-aba. Suami istri itu tersenyum ketika kamera mengabadikan mereka. “Bisa diambil dua hari lagi ya, Ji.”

Raji mengangguk sambil mengulurkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang lusuh. “Makasih, Cik.”

“Ndak usah, Ji. Besok aja kamu ambil fotonya sekalian mbenerin genteng dapur.”

Raji tersenyum. “Baik, Cik. Sekali lagi makasih.”

***

Lengan Ijah melingkar erat di pinggang Raji. Senyumnya mengembang. Terbayang olehnya selembar potret keluarga yang nanti akan dipasangnya di gubuknya. Sesekali tangannya menjulur ke depan, membenarkan topi merah Isti.

Raji mengayuh sepeda ringan, sekilas ditatapnya aspal panas yang menyilaukan mata di bawahnya. Sandal jepit yang sudah tipis dan tak lagi jelas warnanya, berputar, berputar, mengikuti gerak kayuh kaki tuannya. (Mel)

 

Untuk Lelaki Malam ini

 

… Simfoni Beethoven pun akan mengantarku kembali ke hampa.

 Untuk lelaki malam ini, Naira mempersiapkan sajian makan malam dengan pembuka dan penutup, 2 gelas anggur, botol kecil kristal yang isinya tinggal separuh, dan ranjang satin bertabur petal mawar putih di atasnya.

Naira sendiri telah berdandan dari sejak beberapa jam lalu: mengenakan gaun sutra dilapisi lace warna sampanye, menata rambutnya yang panjang dan ikal, memulas raut wajahnya yang eksotis, dan menyemprotkan Trésor ke beberapa titik tubuh.

Sampai lewat tengah malam, yang ia tunggu tak datang. Atau mungkin tak akan pernah datang. Ia pun berhenti menunggu. Ia berbaring menyamping di sisi luar ranjangnya. Menghirup harum mawar, begitu dalam hingga memenuhi ruang dada, sampai kemudian ia lelap.

Malam makin tua. Dari jendela apartemennya, di lantai lima belas, kota terlihat kian mengantuk. Ditandai oleh kelap-kelip lampu  kejauhan yang berasal dari sorot kendaraan di jalanan dan gedung pencakar langit nampak menyerupai kunang-kunang. Menjulang sampai langit benderang. Namun gemintang tak lagi pernah nampak di sana. Entah sejak dari kapan.

Tepat jam kakek kuno mendentang sekali, sesosok lelaki muda, tampan dan jangkung, dengan rambut ikal yang digelung di tengkuk, dan di punggung mengembang  sepasang sayap yang berkilau, diam-diam menyelinap masuk melalui kaca jendela yang sengaja dibuka. Hati-hati ia rengkuh Naira yang terbaring dengan bibir kering di ranjang satinnya. Keduanya kemudian melayang, menembus kabut malam, menghilang.

Ruang apartemen Naira nampak dramatis: denting Fur Elise lembut menggaung di tiap sudut ruang kosong, berulang-ulang, seperti gema dari keping kenangan masa kecil tak bahagia. Di lantai, kertas-kertas berisi catatan, mirip puisi, berserak. Selembar potret keluarga yang robek di tengahnya. Di meja, 2 gelas anggur yang utuh belum tersentuh, botol kristal yang terguling di kaki meja makan, dan sloki arsenik yang telah kosong. (Mel)